Sabtu, 23 Juni 2007

Tuk mu Bunda terciNta

terima kasih bunda!!

Atas teh hangat yang engkau suguhkan di tiap pagi dan sore atas teriakan sayang yang berkumandang tiap subuh, membangunkan si bengal ini (walau mesti engkau ulangi hingga puluhan kali…bukan.. bukan karena diri ini tidak terbangun! Sungguhh, telinga ini sangat sensitif dengan teriakan engkau. Namun telinga ini begitu rindu dengan suara kasihmu itu….atas alunan doa-doa yang tak henti engkau panjatkan di tiap penghujung sholatmu, doa yang sama, kebahagiaan teruntuk buah hatimu…atas tiap bulir keringat yang jatuh dari pagi hingga petang, jerih payah menambah penghidupan untuk buah tercintamu…..

Kau adalah gemerlap bintang di langit malam

Bukan!, kau lebih dari itu

Kau adalah pendar rembulan di angkasa sana,

Bukan!, kau lebih dari itu,

Kau adalah benderang matahari di tiap waktu,

Bukan!, kau lebih dari itu

Kau adalah Sinopsis semesta

Itu saja.

Bunda!!!
Atas perbagai kisah yang selalu engkau ceritakan dulu sebagai pengantar tidur atas ajaran, atas bimbingan, atas senandung indah, atas hembusan nafas…atas segenap cinta, kasih sayang yang hingga matipun, diri ini takkan pernah sanggup membalas, walau hanya setengahnya…

Tangan bunda adalah perpanjangan tangan Tuhan, begitu yang pernah aku baca. Bahkan, kata sebuah hadits, seandainya di dunia ini ada makhluk yang pantas disembah, maka makhluk itu adalah ibu. “Ibumu…… Ibumu…… Ibumu….” Begitu ulang lisan mulia Rasulullah hingga tiga kali, ketika salah seorang sahabat menanyakan siapa yang paling pantas untuk dihormati.

Seberapa dalam cinta dan hormatku, kamu, kita? Pada makhluk yang bernama IBU? Sedalam lautankah? setinggi gunungkah? Atau hanya sebatas remang cahaya lilin yang tak berdaya di terobos terik matahari? Atau hanya sebagai fatamorgana yang munculnya hanya menipu… ketika mendekat hakikatnya tiada!

Bunda!!
Aku masih ingat ketika kecil dulu, ketika naik perahu mau ke pasar, bersama ayah dan bunda, ketika itu dengan manja, kepala kecil n’ jelek ini merebahkan diri ke paha bunda. Saat itu langsung ku pandangi dengan asyik awan lembut berarak, begitu teduh…. kualihkan pandangan ke wajah bunda….ya Allah, wajahmu selayaknya awan putih kebiruan begitu lembut dan meneduhkan…. belaianmu begitu menenangkan…. hingga kini, bila aku rindu dengan bunda, cukup kutengadahkan wajah ke langit, ke awan-awan kebiruan, karena aku yakin wajah bunda ada disana.. Dan begitu banyak cerita manis tentang kasih sayang engkau. Saat menyeberangi titian, kau gendong tubuh mungil ini, karena engkau cemas buah hatimu terjatuh, namun nyatanya dirimu yang oleng dan terjatuh. Saat itu tiada dendam sedikit pun. Raut mukamu malah mencemaskan buah hatimu ini…

Bahkan saat buah hatimu ini usil bermain ketika menuruni tangga dan mendorongmu dari belakang, dan kau terjatuh di anak-anak tangga, kakimu terkilir, dan sakitnya terasa hingga kini….. raut mukamu masih begitu…. Tak ada sesal disana.

Begitupun ketika mulutmu sampai berdarah terluka akibat ulah bocah cilikmu yang asyik main loncat-loncatan hingga menghantam dagu indahmu…. Hanya meringis…. Matamu tetap penuh kasih….. tak pernah ada dendam disana… hangat… Sehangat dan sesetia dirimu menemani setiap saat dimana bocah cilikmu meronta kesakitan, dimana hanya pelukmu dan belaianmu yang bisa menjadi penawarnya….

Dimana engkau selalu ada di setiap saat, kala bahagia, kala derai air mata.Dan hingga ujung waktu, bahkan hingga hari akhir kelak, diri ini berharap kasih sayang itu tetap terasa…. tetap wujud hingga berkumpulnya kita kembali di surga-Nya kelak.

Goresan buat bunda…..

Ingin ku dekap… dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur bagai masa kecil dulu
Lalu doa-doamu kau siramkam di sekujur tubuhku
Dengan apa membalas….

Ya Ilahi, diri ini tak pernah akan sanggup membalas cinta dan kasih sayangnya. Sejuta maaf tak kan bisa menebus dosa hamba padanya… Hanya cinta dan kasih sayang-Mu yang sepadan sebagai balasan cinta dan kasih sayangnya…

Rabbighfirlii wa li walidayya…..Warhamhumaa kama rabbayanii saghiiraa….

“Trima kasih atas smuanya bunda”
"I miss yOu Mom''

'Ananda Achzan Atan'

1 komentar:

Iefhant mengatakan...

iAlhamdulillah km sekarang sudah sadar..... semoga Tuhan mengampuni segala dosamu dek.....
Satu hal yg perlu km ketahui bahwa waktu km kecil dulu km kencing tidak cebok....he..he.. karena lupa.... uhuy....